Laman

Senin, 10 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Tetanus

TINJAUAN TEORITIS

2.1   KONSEP DASAR PENYAKIT

2.1.1        Defenisi
Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekuatan tonus otot massater dan otot-otot rangka (Soeparman, 1990).

2.1.2        Etiologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 milimikro yang berbentuk spora selama diluar tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik.Termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65 C akan hancur dalam lima menit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang hemolisis, yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.

2.1.3        Patofisiologi
Penyakit tetanus yang terjadi pada ibu hamil karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca, atau kaleng, luka tembak, luka bakar dan luka yang kotor sehingga kuman clostridium tetani masuk ke dalam tubuh dan menghasilkan toksin tetanuspasmin sedangkan pada bayi dapat melalui pemotongon tali pusat yang tidak steril. Organisme multipel membentuk 2 toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan  neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot, dan mempngaruhi sistem saraf pusat. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat. Kedua, toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot menjadi kejang dan mudah sekali terangsang. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari .
2.1.1        Manifestasi klinis
Masa tunas biasanya 5 – 14 hari, tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan :
1.      Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris.
2.      Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki)
3.      Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut)
4.      Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior.
5.      Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas),sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
6.      Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan sering marupakan gejala dini.
7.      Spasme yang khas , yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Anak tetap sadar. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramusculus karena kontraksi yang kuat.
8.      Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring.  Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
9.      Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
10. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak.
Ada 3 bentuk klinik dari tetanus, yaitu:
1.        Tetanus local : otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luak. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menghilang tanpa sekuele.
2.        Tetanus general merupakan bentuk paling sering, timbul mendadak dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung dan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat konstruksi otot somatik — meluas.
Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya spasme berlangsuang beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
3.        Tetanus segal : varian tetanus local yang jarang terjadi masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX dan XI tersering adalah saraf otak VII diikuti tetanus umum.

Menurut berat gejala dapat dibedakan 3 stadium :
1.      Trismus (3 cm) tanpa kejang-lorik umum meskipun dirangsang.
2.      Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
3.      Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.

2.1.2        Pemeriksaan diagnostic

·         Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang.
·         Pemeriksaan darah : leukosit 8.000-12.000 ca.
·         Pemeriksaan EGC dapat terlihat gambaran aritmia ventrikuler

2.1.3        Komplikasi

·         .Spame otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saripa) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.
·         Asfiksia
·         Atelektaksis karena obstruksi secret
·         Fraktura kompresi

2.1.4        Penatalaksanaan

1.      Secara Umum
·        Merawat dan memebersihkan luka sebaik-baiknya.
·        Diet TKTP pemberian tergantung kemampuan menelan bila trismus makanan diberi pada sonde parenteral.
·        Isolasi pada ruang yang tenang bebas dari rangsangan luar.
·        Oksigen pernafasan bautan dan trakeotomi bila perlu.
·        Mengatur cairan dan elektrolit.
2.      Obat-obatan
·        Antitoksin
Antitoksin 20.000 iu/1.m/5 hari. Pemberian baru dilaksanakan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
·        .Anti kejang/Antikonvulsan
·        Fenobarbital (luminal) 3 x 100 mg/1.M. untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6 x 30 mg hari (max. 200 mg/hari).
·        Klorpromasin 3 x 25 mg/1.M/hari untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB.
·        Diazepam 0,5-1,0 mg/kg BB/1.M/4 jam, dll.
3.      Antibiotik
·        Penizilin prokain 1, juta 1.u/hari atau tetrasiflin 1 gr/hari/1.V Dapat memusnakan oleh tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.

2.1.8  Pencegahan
1.      Perawatan luka harus dicegah timbulnya jaringan anaerob pada pasien termasuk adanya jaringan mati dan nanah.
2.      Pemberian ATS profilaksis.
3.      Imunisasi aktif.
4.      Khusus untuk mencegah tetanus neonatorum perlu diperhatikan kebersihan pada waktu persalinan terutama alas tempat tidur, alat pemotong tali pusat, dan cara perawatan tali pusat.
5.      Pendidikan atau penjelasan kepada orang tua mengenai kebersihan individu dan lingkungan serta cara pemeriksaan dan perawatan di RS dan perlunya pemeriksaan lanjutan.

ASUHAN KEPERAWATAN

1.        ASUHAN KEPERAWATAN  PADA ANAK  PENYAKIT TETANUS

3.1.1        Pengkajian
1.      Identitas pasien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, rencana terapi.
2.      Identitas orang tua:· Ayah : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.· Ibu : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.
3.      Keluhan utama/alasan masuk Rumah Sakit
4.      Riwayat kesehatan sekarang (adanya luka tertusuk atau luka bakar).
5.      Riwayat kesehatan masa lalu
6.      Riwayat kesehatan keluarga
7.      Riwayat imunisasi (pernah atau tidak mendapat imunisasi TT)
8.      Riwayat tumbuh kembang, pertumbuhan fisik perkembangan tiap tahap.
9.      Riwayat Nutrisi seperti pemberin asi, susu Formula, pemberian makanan tambahan, pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini.
10.  Riwayat Psikososial
11.  Riwayat Spiritual
12.   Reaksi Hospitalisasi pemahaman keluarga tentang sakit yang rawat inap
13.  Aktifitas sehari-hari seperti eliminasi  BAB/BAK, Istirahat tidur, Olahraga, Personal Hygiene, Aktifitas/mobilitas fisik dan rekreasi
14.  Pemeriksaan Fisik seperti keadaan umum klien, tanda-tanda vital, antropometri, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem pencernaan, sistem indra, sistem muskulo skeletal,sistem integument, sistem endokrin, sistem saraf : Fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi cerebelum, refleks, iritasi
15.  Pemeriksaan tingkat perkembangan  0 – 6 tahun dengan menggunakan DDST (motorik kasar, motorik halus, bahasa, personal sosial) dan 6 tahun keatas (perkembangan kognitif, Psikoseksual, Psikososial.)

3.1.2        Diagnosa
Setelah pengumpulan data, menganalisa data, dan menentukan diagnosa keperawatan yang tepat sesuai dengan data yang ditemukan, kemudian direncanakan membuat prioritas diagnosa keperawatan, membuat kriteria hasil, dan intervensi keperawatan.
1.        Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring).
2.        Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut
3.        Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tetanus lysin , pembatasan aktifitas (immobilisasi)
4.      Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.
5.      Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
6.      Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang .

6.1.1        Intervensi keperawatan
1.        Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring).
Tujuan : Anak memperlihatkan kepatenan jalan nafas dengan kriteria jalan nafas bersih, tidak ada sekresi.
Intervensi dan rasional:
·          Kaji status pernafasan, frekwensi, irama, setiap 2 – 4 jam.
Rasional: Menentukan intervensi yang tepat dan perkembangan jalan nafas.
·         Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan pasti bila ada penumpukan sekret.
Rasional:  Penumpukan secret dapat menghabat jalan nafas.
·         Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut, Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya secret.
Rasional:  Mempermudah jalan nafas akibat penumpukan sekret
·         Gunakan sudip lidah saat kejang.
Rasional:  Menghindari cedera lidah akibat gigitan gigi.
·         Miringkan ke samping untuk drainage.
Rasional:  Memudahkan pengeluaran secret.
·         Observasi oksigen sesuai program.
Rasional:  Memenuhi kebutuhan oksigen dan kepatenan intake oksigen
·         Kolaborasi pemberian obat deazepam
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut
Tujuan :  Status nutrisi anak terpenuhi dengan kriteria: Berat badan sesuai usia, makanan 90 % dapat dikonsumsi,  Jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan gizi anak (protein, karbohidrat, lemak dan viotamin seimbang.
 Intervensi dan Rasional:
·         Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan
Rasional: Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh.
·          Kaji bising usus bila perlu, dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang.
Rasional: Bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui kemungkinan komplikasi dan mengetahui penurunan obsrobsi air.
·         Timbang berat badan
Rasional: Mengevalusai kefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
·         Kolaborasi pemberian nutrisi yang tinggi kalori dan protein.
Rasional: Suplay Kalori dan protein yang adekuat mempertahankan metabolisme tubuh
3.      Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tetanus lysin , pembatasan aktifitas (immobilisasi)
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan criteria: Tidak ada kemerahan , lesi dan edema.
Intervensi dan Rasional:
·         Observai adanya kemerahan pada kulit.
Rasional: Kemerahan menandakan adanya area sirkulasi yang buruk dan kerusakan yang dapat menimbulkan dikubitus.
·         Rubah posisi secara teratur
Rasional: Mengurangi stres pada titik tekanan sehingga meningkatkan aliran darah ke jaringan yang mempercepat proses kesembuhan.
·         Anjurkan kepada orang tua pasien untuk memakaikan katun yang longgar
Rasional: Mencegah iritasi kulti secara langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit
·         Pantau masukan cairan, hidrasi kulit dan membran mukosa.
Rasional: Mendeteksi adanya dehidrasi/overhidrasi yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan
·         Pertahankan hygiene kulit dengan mengeringkan dan melakukan masagge dengan lotion.
Rasional: Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi dan masagge dapat meningkatkan sirkulasi kulit
4.      Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.
Tujuan : Tidak terjadi aspirasi dengan kriteria: Jalan nafas bersih dan tidak ada sekret- Pernafasan teratur.
 Intervensi dan Rasional
·         Kaji status pernafasan setiap 2-4 jam
Rasional: Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya secret.
·         Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati
Rasional: Menurunkan resiko aspirasi atau aspiksia dan osbtruksi.
·         Gunakan sudip lidah saat kejang
Rasional: Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan.
·         Miringkan ke samping untuk drainage
Rasional: Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.
·         Pemberian oksigen 0,5 Liter
Rasional: Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia.
·          Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut
Rasional: Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia.
·         Kolaborasi Pemberian sedativa sesuai program
Rasional: Mengurangi rangsangan kejang.
5.        Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
Tujuan : Cedera tidak terjadi dengan kriteria Klien tidak ada cedera, Tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman
Intervensi dan Rasional:
·         Identifikasi dan hindari faktor pencetus.
Rasional: Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang.
·         Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman.
Rasional: Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang.
·         Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel.
Rasional: Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi resiko yang dapat memperberat kondisi klien
·          Lindungi pasien pada saat kejang.
Rasional: Mencegah terjadinya benturan/trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik
·         Catat penyebab mulai terjadinya kejang
Rasional: Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan pengontrolan dan identifikasi kejang.
6.      Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang
Tujuan :  Orang tua menunjukan rasa cemas berkurang dan dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi anak yang dialami, dengan kriteria : Orang tua klien tidak cemas dan gelisah.
Intervensi dan Rasional:
·         Jelaskan tentang aktifitas kejang yang terjadi pada anak
Rasional: Pengetahuan tentang aktifitas kejang yang memadai dapat mengurangi kecemasan.
·         Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya tentang kondisi anaknya.
Rasional: Ekspresi/ eksploitasi perasaan orang tua secara verbal dapat membantu mengetahui tingkat kecemasan.
·         Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
Rasional: Pengetahuan tentang prosedur tindakan akan membantu menurunkan / menghilangkan kecemasan.

·         Gunakan komunikasi dan sentuhan terapetik
Rasional: Memberikan ketenangan dan memenuhi rasa kenyamanan bagi keluarga

6.1.1        Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang harus dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat dengan mendahulukan prioritas yang mengacam keadaan pasien.

6.1.2        Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir penilaian atau observasi dari proses keperawatan dengan menggunakan SOAP sebagai penilaian keberhasilan atau tidak berhasilnya implementasi yang telah dilakukan serta melanjutkan dari intervensi yang belum tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Soeparman, 1990. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Deanna dkk, 1991. Penyakit Infeksi. Jakarta: EGC
Theodore R, 1993. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapiu Fakultas Kedoteran Universitas Indonesia
Doenges Marilyn E. Doenges.2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC
LENSA KOMUNIKA Askep Tetanus tanggal 30 Mei 2008 file:///D:/My%20dOwNlOaD/Tetanus/askep-tetanus_30.html
It’s a wonderfull world TETANUS tanggal 09 Maret 2008 oleh harnawatiaj file:///D:/My%20dOwNlOaD/Tetanus/TETANUS%20%C2%AB%20%20..WELCOME%20TO%20HARNA%E2%80%99S%20WORLD.htm

0 komentar:

Posting Komentar

Habis dibaca, jangan lupa komentarnya y...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...