Laman

Selasa, 01 Februari 2011

Gambaran Penyebab Tingginya Angka Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue DBD di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN PEKANBARU
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PEKANBARU
KARYA TULIS ILMIAH,     Juli 2010

MAGHFARUDDIN

Gambaran penyebab tingginya angka kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010

x + 44 halaman + 9 tabel + 1 skema + 13 lampiran
 

ABSTRAK
Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularakan melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. Demam berdarah timbul pada daerah tropis, termasuk Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena dalam waktu yang relatif singkat DBD dapat menelan banyak korban. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui gambaran penyebab tingginya angka kejadian penyakit Demam berdarah di RW 05 kelurahan Labuh Barat Kecamatan Payung Sekaki yang merupakan angka kejadian tertinggi sebanyak 73 kasus pada tahun 2009. Adapun variabel dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit Demam berdarah terdiri dari tiga variabel yaitu pengetahuan, perilaku dan lingkungan. Desain Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 41 responden dengan metode random sampling. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa  mayoritas  pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dengan kriteria baik sebanyak 25 orang ( 61%), kemudian  mayoritas perilaku positif sebanyak 25 orang (61%) sedangkan mayoritas lingkungan rumah  tidak baik  sebanyak 21 rumah ( 65,9%). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan perilaku tidak menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah sedangkan lingkungan dapat mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat Kecamatan Payung sekaki Tahun 2010. Dari hasil penelitan diharapkan menjadi tambahan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah dan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat setempat untuk lebih meningkatakan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pencegahan Penyakit DBD (P2 DBD).


Daftar bacaan  :  14 buku (1994-2009)
Kata kunci       :  demam berdarah, pengetahuan, perilaku dan lingkungan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorogic Fever (DHF), sejak ditemukan pada tahun 1635 di Kepulauan Karibia sampai sekarang merupakan penyebab kematian terutama pada anak, remaja dan dewasa. DBD atau DHF sering terjadi didaerah tropis,  dan muncul pada musim penghujan, Indonesia sebagai negara tropis tidak pernah terlepas dari serangan DBD. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ini menjadi momok yang mengerikan. Dalam waktu yang relatif singkat DBD dapat menelan banyak korban (Kristina, 2004).
Penyakit DBD di Asia Tenggara ditemukan pertama kali di Manila tahun 1954 dan Bangkok tahun 1958 (Soegijanto S. Sustini F, 2004) dan dilaporkan menjadi epidemi di Hanoi tahun 1958, Malaysia tahun 1962-1964, Saigon tahun 1965, dan Calcutta tahun 1963 (Soedarmo, 2002). Kenyataan saat ini virus dengue menempatai urutan kedelapan  sebagai penyebab kesakitan di negara-negara kawasan Asia Tenggara (Halstead, 1980)
DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya tahun 1968 (Pratana dkk, 1970), tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh tahun 1970. Di Jakarta laporan pertama diajukan oleh Kho dkk tahun 1969. Kemudian DBD berturut-turut dilaporkan di Jakarta tahun 1972 (Palenkahu dkk, 1972), Bandung (Abdul Rivai dkk, 1972)  dan Yogyakarta (Ismangun dkk, 1972).  Dari tahun 1968 sampai tahun 1972 wabah hanya dilaporkan di Pulau Jawa. Epidemi pertama di luar Jawa dilaporkan pada tahun 1972 di Sumatera Barat dan Lampung, disusul pada tahun 1973 oleh epidemi di Riau, Sulawesi Utara, dan Bali (Departemen Kesehatan, 1981)
DBD telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia sejak tahun 1997 dan telah terjangkit di daerah pedesaan (Suroso T, 1999). Angka kesakitan rata-rata DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 persen (1968) menjadi 8,14 persen (1983), dan mencapai angka tertinggi tahun 1998 yaitu 35,19 persen per 100.000 penduduk dengan jumlah penderita sebanyak 72.133 orang (Soegijanto S., 2004). Sasaran penderita DBD juga merata, mengena pada semua kelompok umur baik anak-anak maupun orang dewasa, baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan, baik orang kaya maupun orang miskin, baik yang tinggal di perkampungan maupun di perumahan elit, semuanya bisa terkena Demam Berdarah (Huda AH, 2004).
Di Indonesia kasus DBD setiap tahun melanda negara kita. Penyakit ini tiap tahun telah membawa banyak korban jiwa, bahkan jumlah kasus serta korban jiwa meningkat tiap tahunnya. Jumlah kasus demam berdarah sepanjang tahun 1999 sebanyak 21.134 orang, tahun 2000 sebanyak 33.443 orang, tahun 2001 sebanyak 45.904 orang, tahun 2002 sebanyak 40.377 orang, tahun 2003 sebanyak 50.131 orang, tahun 2004 sebanyak 74.015 orang, tahun 2005 sebanyak 95.006 orang, tahun 2006 sebanyak 113.640 orang dan januari tahun 2007 sebanyak 9001 orang. ( Nadesul H, 2007).
Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Kementrian Kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi di perluas dengan menggunakan Larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan.
Peningkatan jumlah kasus serta angka kematian, ada yang mensinyalir kalau virus dengue yang mewabah sekarang adalah virus baru. Kemungkinan ini tidak tertutup karena dengue adalah virus RNA (virus yang menggunakan RNA sebagai genomnya) yang bermutasi jauh lebih cepat dibandingkan dengan virus DNA. Begitu kemungkinan rekombinasi (penyilangan gen) juga tidak bisa dikesampingkan. Beberapa penelitian juga telah membuktikan terjadinya rekombinasi pada virus dengue. Kedua mutasi dan rekombinasi ini akan melahirkan virus berawajah baru dengan sifat dan karakter yang baru (Siswono, 2004)
Menurut World Health Organization (WHO) gejala umum dari DBD adalah di awali dengan demam tingi yang mendadak 2-7 hari (38o C sampai 40o C), manifestasi pendarahan dengan bentuk uji tourniquet positif, perdarahan mukosa, epitaksis, melena, hepatomegali, tekanan darah menurun menjadi 20 mmHg, tekanan sistolik 80 mmHg. Pada hari ke-3 sampai ke-7 trombosit menurun sampai 100.000/mm3, sedangkan hematokrit nilainya meningkat. Gejala klinik lainnya yang dapat menyertai adalah anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, kejang, diare, sakit kepala dan disertai rasa sakit pada otot dan persendian. (Demam Berdarah Dengue, WHO. 1999)
Larva nyamuk Aedes aegypti di temukan pada semua tempat penyimpanan air bersih yang tenang yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti misalnya gentong air murni, kaleng kosong berisi air hujan, bak kamar mandi atau pada lipatan dan lekukan daun yang berisi air hujan, vas bunga berisi air dan lain-lain. Nyamuk Aedes aegypti lebih banyak ditemukan berkembang biak pada kontainer yang ada dalam rumah. Perkembangan hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10-12 hari dan umur nyamuk Aedes aegypti betina berkisar antara 2 minggu sampai 3 bulan atau rata-rata 1,5 bulan, tergantung dari suhu kelembaban udara sekelilingnya (Biswas, 1997).
Lingkungan sangat mempengaruhi terjadinya perkembangbiakan nyamuk aides agypti.  Faktor lingkungan yang berperan terhadap timbulnya penyakit DBD diantaranya lingkungan pekarangan yang tidak bersih, seperti bak mandi yang jarang dikuras, pot bunga, genangan air di berbagai tempat, ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng-kaleng bekas serta botol-botol yang dapat menampung air dalam jangka waktu yang lama, Depkes (2004). Dari pernyataan tersebut pengetahuan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit DBD dan juga didukung oleh prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk melestarikan lingkungan tempat tinggalnya (Rini Hermiyati, 2009).
Kasus DBD yang banyak menelan korban jiwa perlu perhatian yang khusus baik dari pemerintah, tim kesehatan dan partisipasi masyarakat untuk mencegah terjadinya penyakit DBD. Pencegahan dapat kita lakukan melalui pendidikan kesehatan karena banyaknya jumlah penderita DBD saat ini disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran warga tentang hidup bersih. Akibatnya, nyamuk aides agypty yang menjadi sumber penyakit DBD tumbuh dan berkembang biak dengan sempurna (Rini Hermiyati, 2009). Selain itu pencegahan dapat dilakukan melalui fogging, prilaku 3M Plus dan pemberian Larvasida serta penelitian ilmiah agar penyakit DBD yang relatif terus meningkat setiap tahun dapat didiagnosis dan dikelola secara tepat sehingga angka kematian dapat ditekan serendah-rendahnya (Sumarmo, 2005)
Apabila pencegahan penyakit DBD tidak dilakukan akan berdampak bagi warga, teman dan anggota keluarga kita yang berkemungkinan besar bisa mengalami penyakit DBD dan bisa membawa kematian. Namun pencegahan dan pemberantasan yang dilakukan belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru angka kejadian penyakit DBD masih tergolong tinggi. Data angka kejadian penyakit DBD dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1.1
Data Kejadian Penyakit Demam Berdarah di Kota Pekanbaru Tahun 2009
NO.
KECAMATAN
JUMLAH KASUS
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12
Sukajadi
Senapelan
Pekanbaru Kota
Rumbai Pesisir
Rumbai
Lima Puluh
Sail
Bukit Raya
Marpoyan Damai
Tenayan Raya
Tampan
Payung Sekaki
29 orang
19 orang
12 orang
15 orang
26 orang
20 orang
16 orang
37 orang
52 orang
16 orang
51 orang
73 orang

 Jumlah
366 Orang
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Tahun 2009
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat kota Pekanbaru memiliki 12 kecamatan yang endemis dan angka kejadian penyakit DBD yang paling tertinggi yaitu di kecamatan Payung Sekaki sebanyak 73 orang selama tahun 2009. Kejadian ini meningkat dari tahun 2008 yang angka kejadian DBD sebanyak 38 orang.
Berdasarkan hasil survei awal lingkungan di wilayah kecamatan payung sekaki masih terdapat faktor yang dapat menimbulkan perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti seperti perkarangan yang kurang bersih, barang-barang bekas yang dapat menampung air, dan keadaan tanah gambut yang bisa mengakibatkan air menjadi tergenang.
Untuk mengantisipasi makin merebaknya penyakit  DBD pihak lintas sektoral, puskesmas dan warga setempat telah melukakn upaya pencegahan dan pemberantasan terjadinya penyakit DBD yaitu dengan cara   melakukan pengasapan (fogging), penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mengantisipasi penyebaran DBD. Selain itu warga setempat juga telah melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan namun upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan fakta di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Gambaran Penyebab Tingginya Angka Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis dapat merumuskan masalah penelitian yaitu “Gambaran apa saja yang menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit DBD di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki?”.
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1  Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran yang menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas  Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.
1.3.2      Tujuan Khusus
a.       Diperolehnya gambaran pengetahuan yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah  di RW 05  Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas  Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.
b.      Diperolehnya gambaran perilaku yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah  di RW 05  Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas  Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.
c.       Diperolehnya gambaran lingkungan yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah  di RW 05  Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas  Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.

1.4.   Manfaat Penelitian
1.4.1  Bagi Puskesmas
      Sebagai masukan dan  tambahan informasi tentang faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit DBD.
1.4.2  Bagi Pendidikan
Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor yang menyebabkan angka kejadian penyakit DBD
1.4.3  Bagi Penulis
Memberikan pengalaman dan pengatahuan bagi peneliti mengenai faktor-faktor yang meningkatkan angka kejadian penyakit DBD  di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas  Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.
1.4.4  Bagi Masyarakat
Menambah wawasan dan menumbuhkan kesadaran untuk berpartispasi dalam pencegahan penyebaran penyakit DBD.

1.5      Ruang Lingkup
Berhubung dengan keterbatasan waktu dan biaya dalam penelitian ini penulis membatasi penilitian hanya pada gambaran yang menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit DBD  di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat wilayah kerja Puskesmas  Payung Sekaki Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2010.



BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1     Kerangka konsep
Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. Kerangka konsep membahas saling ketergantungan antarvariabel yang dianggap untuk melengkapi dinamika situasi atau hal yang sedang atau akan diteliti. (Sekaran, 2006). Pada penelitian ini yang menjadi variabelnya adalah pengetahuan, prilaku, dan lingkungan. 

3.2     Definisi operasional
Definisi operasional adalah penjelasan penulis terhadap variabel yang akan diteliti secara operasional atau aplikasi dilapangan yang meliputi maksud variabel, cara ukur dan hasil ukur yang diharapkan. ( Sakhnan, R. 2009). Pada tabel di bawah ini merupakan definisi operasional setiap variabel yang akan diteliti:
Tabel 3.2.1
No    
Variabel
Definisi Operasional
Alat ukur
Skala
Hasil ukur
1.
Independent
Pengetahuan:

Pengetahuan adalah semua yang diketahui oleh responden tentang penyakit demam berdarah dengue meliputi pengertian, penyebab, tanda dan gejala, penatalaksanaan dan pencegahan.

Questioner yang terdiri dari 10 pertanyaan.

Ordinal
Baik=
76-100%
Cukup=
56-75%
Kurang=
≤ 56%


·     Baik bila responden  menjawab benar  8-10 dari pertanyaan yang diberikan
·     Cukup bila responden  menjawab benar  5-7 dari pertanyaan yang diberikan
·      Kurang bila responden  menjawab benar < 5 dari pertanyaan yang diberikan
2.
Perilaku
Perilaku merupakan kegiatan atau aktivitas responden dalam upaya mencegah dan memberantas sarang nyamuk penyebab demam berdarah. Perilaku mencegah dan memberantas yaitu 3 M plus

Questioner yang terdiri dari 10 pertanyaan.
Ordinal
·     Jawaban ya bobot 1 apabila Perilaku positif  dengan memenuhi sekor > dari nilai rata-rata hasil jawaban seluruh responden
·     Jawaban tidak bobot 0 apabila Perilaku negatif dengan memenuhi sekor ≤ dari nilai rata-hasil jawaban seluruh responden

3.
Lingkungan
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang tedapat disekitar kita berperan terhadap timbulnya penyakit DBD meliputi:
1.      Genangan air.
2.      Penyumbatan aliran air.
3.      Barang bekas yang bisa menampung air.
4.      Lingkungan yang kotor.
Questioner yang terdiri dari 5 pertanyaan.
ordinal
·     Jawaban ya bobot 1 apabila lingkungan bersih dari hasil pengamatan peneliti
·     Jawaban tidak bobot 0 apabila lingkungan tidak bersih dari hasil pengamatan peneliti




BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1  Hasil Penilitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 10 – 13 juli 2010  terhadap 41 orang responden di RW 05 kelurahan Labuh baru barat Kecamatan Payung sekaki Tahun 2010 diperoleh hasil sebagai berikut:
       5.1.1  Analisa univariat
a. Data umum
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin
di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)
Laki-laki
15 orang
36.6 %
Perempuan
26 orang
63.4%
Total
41 orang
100%
Sumber: Hasil pengisian kuesioner
Dari tabel 5.1 diatas dapat dilihat dari 41 responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat mayoritas adalah perempuan sebanyak 26 orang (63.4%) dan minoritas laki-laki sebanyak 15 orang (36.6%).

Tabel 5.2
Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Umur
Frekuensi
Persentase (%)
18-21
5 orang
12,2 %
22-25
2 orang
4,8 %
26-29
7 orang
17,0 %
30-33
5 orang
12,2 %
34-37
8 orang
19, 5 %
38-41
11 orang
26,8 %
42-45
3 orang
7,3 %
Total
41 orang
100 %
Sumber: Hasil pengisian kuesioner
Dari tabel 5.2diatas dapat dilihatmayoritas responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat berumur pada rentang 38-41 tahun sebanyak 11 orang (26,8%) dan minoritas berumur 22-25 tahun sebanyak 2 orang (4,8%) dari 41 orang jumlah sampel.

Tabel 5.3
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan
di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Pendidikan
Frekuensi
Persentase (%)
SMP
6 orang
14,6 %
SMA
26 orang
63,4 %
Akademi
4 orang
9,8 %
Sarjana
5 orang
12,1 %
Total
41 orang
100 %
Sumber: Hasil pengisian kuesioner
Dari tabel 5.3 diatas dapat dilihat mayoritas responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat yang berpendidikan SMA sebanyak 26 orang (63,4%) dan minoritas berpendidikan akademi sebanyak 4 orang (9,8%) dari 41 orang jumlah sampel.
Tabel 5.4
Distribusi frekuensi responden berdasarkan mendapat
penyuluhan  di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Mendapat penyuluhan
Frekuensi
Persentase (%)
Pernah
14 orang
34,1 %
Tidak
27 orang
65,9 %
Total
41 orang
100 %
Sumber: Hasil pengisian kuesioner
Dari tabel 5.4 diatas dapat dilihat mayoritas responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat yang tidak pernah mendapat penyuluhan tentang penyakit DBD sebanyak 27 orang (65,9%) dan minoritas yang  pernah mendapat penyuluhan sebanyak 14 orang (34,1%) dari 41 orang.

b. Data khusus

Tabel 5.5
Distribusi frekuensi responden berdasarkan Pengetahuan
masyarakat di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Kriteria
Frekuensi
Persentase (%)
Baik
23 orang
56,1 %
Cukup
14 orang
34,1 %
Kurang
4 orang
9,8 %
Total
41 orang
100 %
Sumber: Hasil pengisian kuesioner
Dari tabel 5.5  diatas dapat dilihat mayoritas responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat yang berpengetahuan baik tentang penyakit DBD sebanyak 23 orang (56,1%) dan minoritas berpengetahuan kurang sebanyak 4 orang (9,8%) dari 41 orang.
Tabel 5.6
Distribusi frekuensi responden berdasarkan perilaku masyarakat
di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Kriteria
Frekuensi
Persentase (%)
Positif
15 orang
36,5 %
Negatif
26 orang
63,4 %
Total
41 orang
100 %
Sumber: Hasil pengisian kuesioner
Dari tabel 5.6 diatas dapat dilihat mayoritas responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat yang berperilaku negatif sebanyak 26 orang (63,4%) dan minoritas berperilaku positif sebanyak 15 orang (36,5%) dari 41 orang.

Tabel 5.7
Distribusi frekuensi responden berdasarkan lingkungan
di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat
Kecamatan Payung sekaki
Tahun 2010

Kriteria
Frekuensi
Persentase (%)
Baik
14 rumah
34,1 %
Tidak baik
27 rumah
65,9 %
Total
41 rumah
100 %
Sumber: Hasil pengisian kuesioner

Dari tabel 5.7 diatas dapat dilihat mayoritas lingkungan rumah responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat yang tidak baik sebanyak 27 rumah (65,9%) dan minoritas lingkungan rumah yang baik sebanyak 14 rumah (34,1%) dari 41 rumah.

5.2    Pembahasan
       5.2.1 Analisa univariat
                 a. Data umum
                            Berdasarkan uji deskriptifstatistik dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 41 orang responden dapat diketahui bahwa mayoritas adalah perempuan sebanyak 26 orang (36,6%) dan minoritas laki-laki sebanyak 15 orang (63,4%) dengan mayoritas berumur pada rentang 38-41 tahun sebanyak 11 orang (26,8%). Teori ini sesuaimenurut Local Gender Ahli (LGA) yaiturasa ingin tahu dan peduli terhadap kesehatan lebih dominan dimiliki oleh perempuan dibandingkan laki-laki. (Arifa S. Permana, 2009).Perempuan lebih banyak memiliki waktu untuk berada dirumah dibandingkan laki-laki karena laki-laki waktunya lebih banyak digunakan untuk mencari nafkah keleuarga.

                 Tingkat pendidikan responden cukup baik yaitu berpendidikan SMA sebanyak 26 orang (63,4%), SMP 6 orang (14,6%), Sarjana 5 orang (12,1%) dan Akademi sebanyak 4 orang (9,8).Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin banyak ilmu pengetahuan dan informasi yang diperoleh.Menurut instruksi presiden No.15 tahun 1974, pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani, yang berlangsung seumur hidup.
                                  Kemudian dari hasil deskriptif statistic menunjukkan bahwa dari 41 responden yang pernah mendapat penyuluhan tentang penyakit DBD hanya 14 orang (34,1%) sedangkan yang tidak pernah mendapat penyuluhan sebanyak 27 orang (65,9%). Dari hasil wawancara kurangnya partisipasi masyarakat karena bebarapa faktor seperti kesibukan mengurus rumah tangga, bekerja dan kurangnya informasi yang diperoleh dari pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan penyuluhan.

                 b. Data khusus
                 Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 41 responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat dapat diketahui bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dengan kriteria baik sebanyak 23 orang ( 56,1%), selanjutnya kriteria cukup sebanyak 14 orang (34,1%) dan kriteria kurang sebanyak 4 orang (9,8%). Mayoritas responden berpendidikan SMA sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan yang cukup baiktentang penyakit DBD (Notoadmodjo, 2007). Menurut teori Tjitarsa (1992), mengatakan bahwa tingkat pemahaman seseorang terhadap kesehatan berhubungan dengan tingkat pengetahuan seseorang terhadap kesehatan. Seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan yang luas maka tingkat pemahamannya akan kesehatan juga akan tinggi. Hal ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang selalu mengutamakan nilai-nilai kesehatan. Sedangkan seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang akan selalu mengalami gangguan kesehatan. Dari hasil penelitian tersebut ternyata pengetahuan yang baik di RW 05 Kelurahan Labuh Baru Barat tidak mempengaruhi terhadap tingginya angka kejadian penyakit Demam berdarah.
Kemudian hasil deskriptik statistic menunjukkan kriteria perilaku terhadap 41 responden mayoritas sebanyak 25 orang (61%) berperilaku negatif yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh program pencegahan penyakit DBD (P2 DBD). Kemudian kriteria berperilaku positif sebanyak 16 orang (39%) dalam pencegahan penyakit DBD. Bila dihubungkan dengan variable pengetahuan diperoleh mayoritas pendidikannya adalah SMA yang tergolong pendidikan menengah. Hal ini disebabkan apa yang sudah diketahui belum tentu dilaksanakan untuk diterapkan.Dari hasil penelitian  tersebut dapat dilihat perilaku yang tidak sehatdapat mempengaruhi terhadap tingginya angka kejadian penyakit Demam berdarah. Menurut Dinkes terjadinya penyakit-penyakit DBD disebabkan lingkungan yang buruk dan perilaku yang tidak sehat seperti membuang sampah sembarangan dan membiarkan air tergenang.
Keadaan lingkungan setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap 41 responden dapat dilihat mayoritas lingkungan di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat adalah tidak baik pada 27 rumah ( 65,9%) dari hasil pengamatan dan wawancara. Dari hasil wawancara terhadap 41 responden Lingkungan RW 05 kelurahan Labuh baru barat dapat dikatakan masih jarang untuk melakukan gotong royong. Sehingga dari hasil pengamatan dapat dilihat masih terdapat selokan yang tersumbat dan airnya tidak mengalir. Kemudian tanah di wilayah RW 05 Kelurahan Labuh baru barat termasuk daratan rendah, hal ini sering mengakibatkan air tergenang. Selain itu dibeberapa rumah warga dan sekitarnya masih terdapat tempat pembuangan sampah yang sembarangan, masalah ini dapat menyebabkan nyamuk aedes aegypty yang menjadi sumber penyakit DBD dapat tumbuh dan berkembang biak dengnan sempurna. Dari hasi penelitian terhadap lingkungan, ternyata dari lingkungan yang tidak baik dapat mempengaruhi tingginya angka kejadi penyakit Demam berdarah di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat.


BAB VI
PENUTUP
6.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 41 responden di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit Demam berdarah di wilayah kerja Puskesmas Payung sekaki kecamatan Payung sekaki Tahun 2010 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Karakteristik mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 26 orang dengan persentase  36,6%. Karakteristik mayoritas dalam rentang umur 38-41 tahun sebanyak 11 orang dengan persentase 26,8%. Dari tingkat pendidikan mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 26 orang dengan persentase 63,4%. Kemudian mayoritas yang  tidak pernah mendapat penyuluhan sebanyak 27 orang dengan persentase 65,9%.
2.      Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa mayoritas  pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dengan kriteria baik sebanyak 23 orang ( 56,1%), kemudian  mayoritas perilaku negatif sebanyak 25 orang (61%) sedangkan mayoritas lingkungan rumah  tidak baik  sebanyak 27 rumah ( 65,9%). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor pengetahuan tidak mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah sedangkan faktor perilaku dan lingkungan dapat mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah di RW 05 Kelurahan Labuh baru barat Kecamatan Payung sekaki Tahun 2010.
6.2  Saran
6.1.    Bagi Puskesmas
          Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diharapkan menjadi tambahan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit demam berdarah dan dijadikan sebagai masukan untuk lebih meningkatakan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pencegahan Penyakit DBD (P2 DBD).

6.2.     Bagi Pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan tamabahan pengetahuan tentang penyakit demam berdarah dan berguna bagi  peneliti lainnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan perlu dikembangkan dengan metode dan desain yang berbeda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian penyakit Demam berdarah.

6.3.     Bagi Masyarakat
          Diharapkan bagi masyarakat dapat  menumbuhkan kesadaran untuk berpartispasi dalam pencegahan penyebaran penyakit DBD dengan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).



0 komentar:

Posting Komentar

Habis dibaca, jangan lupa komentarnya y...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...